Tisna’s Blog

Juni 3, 2009

Hukum Perdata

Filed under: Uncategorized — Tisna @ 4:28 am

DEFINISI HUKUM PERDATA

• Menurut Subekti ” hukum perdata dalam arti luas meliputi semua hukum privat materiil,yaitu segala hukum pokok yang mengatur kepentingan-kepentingan perseorangan
• Menurut Sri Soedwei Masjchoen sofwan”hukum perdata adalah hukum yang mengatur kepentingan antara warga negara perseorangan yang satu dengan warga negara perseorangan yang lain.(Sofwan 1975 :1)
• Wirjono Prodjodikoro ” hukum perdata adalah suatu rangkaian hukum antara orang-orang atau badan satu sama lain tentang hak dan kewajiban”.
• Sudikno merto kusumo”Hukum perdata adalah hukum antar perorangan yang mengatur hak dan kewajiban perorangan yang satu terhadap yang lain didalam hubungan keluarga dan didalam masyarakat.Pelaksanaannya diserahkan kepada masing-masing pihak.”
• Asis Safioedin” hukum perdata adalah hukum yang memuat peraturan dan ketentuan hukum yang meliputi hubungan hukum antara orang yang satu dengan yang lain didalam masyarakat dengan menitik beratkan kepada kepentingan perorangan.”
• Vollmar menyebutkan,” hukum perdata ialah aturan –aturan atau norma-norma yang memberikan perlindungan pada kepentingan perseorangan dalam perandingan yang tepat antara kepentingan yang satu dengan yang lain dari orang-orang didalam suatu masyarakat tertentu terutama yang mengenai hubungan keluarga dan hubungan lalu lintas.
• Van dunne” hukum perdata adalah suatu peraturan yang mengatur tentang hal-hal yang sangat esensial bagi kebebasan individu,seperti orang dan keluarganya,hak milik dan perikatan.

Dari berbagai definisi hukum perdata diatas dapat dirumuskan
1.Adanya kaidah hukum (tertulis atau tidak tertulis
2. mengatur hubungan hukum antara subjek hukum yang satu dengan subjek hukum yang lain.
3. Bidang hukum yang diatur dalam hukum perdata meliputi hukum orang,hukum keluarga,hukum benda, hukum waris,hukum perikatan,serta hukum pembuktian dan kedaluarsa.

HUKUM PERDATA DI INDONESIA

• Hukum perdata yang berlaku dindonesia beraneka ragam (pluralistis) artinya hukum perdata yuang berlaku diindonesia terdiri dari berbagai macam ketentuan hukum,dimana setiap penduduk mempunyai hukmnya masing-masing.ada penduduk yang tunduk dengan hukum adat,hukum islam,dan hukum perdata barat.

Pemerintah hindia belanda membagi penduduk di daerah jajahannya atas 3 golongan
1. Golongan eropa dan dipersamakan dengan itu
2. Golongan timur asing,timur asing dibagi menjadi timur asing tionghoa dan bukan tionghoa.Termasuk bukan tionghoa adalah ,orang arab,pakistan,india dll
3. Bumiputra,yaitu orang indonesia asli

SISTEMATIKA HUKUM PERDATA BELANDA
1. tentang orang dan keluarga
2. tentang badan hukum
3. tentang hukm benda
4. tentang hukum perikatan
5. tentang pembuktian dan daluarsa

SUBJEK HUKUM
• Subjek hukum berasal dari terjemahan rechsubjekt(belanda) atau law of subjeck (inggris) pada umumnya diartikan rech subjek sebagai pendukun hak dan kewajiban.

PEMBAGIAN SUBJEK HUKUM
1.Manusia
2.Badan hukum

Ad.1 Manusia
Ada 2 pengertian manusia yaitu dari segi biologis dan dari segi yuridis.
• Dari segi biologis ,manusia tersebut adalah makhluk yang berwujud dan rohaniah,yang berasa,yang berbuat dan yang menilai berpengetahuan dan berwatak
• Secara yuridis,manusia adalah orang dengan alasan manusia mempunyai hak-hak subjektif dan kewenangan hukum .kewenangan hukum adalah kecakapan untuk menjadi subjek hukm yaitu sebagai pendukung hak dan kewajiban.

Ad.2. Badan hukum (zedelijk lichaam)
• Badan hukum menurut (sri dewi masjchoon))adalah :kumpulan orang-orang yang bersama-sama bertujuan untuk mendirikan suatu badan,yaitu 1. berwujud himpunan dan 2. harta kekayaan yang disedirikan untuk tujuan tertentu,dan ini dikenal dengan yayasan.

Unsur-unsur badan hukum
1. mempunyai perkumpulan
2.mempunyai tujuan tertentu
3. mempunyai harta kekayaan
4.mempunyai hak dan kewajiban
5. mempunyai hak untuk menggugat dan di gugat.

Yang termasuk katagori badan hukum privat yaitu :
1.Himpunan
2. PT
3. Firma
4. M.A.I (Maskapai Andil Indonesia)
5. Korporasi
6.Yayasan

AZAS-AZAS HUKUM PERDATA
o Azas Individualitas
o Azas Kebabasan Berkontrak
o Azas Monogami ( dalam hukum perkawinan )

Azas Individualitas

Batasan terhadap azas individualitas :
a. Hukum Tata Usaha Negara ( campur tangan pemerintah terhadap hak milik )
b. Pembatasan dengan ketentuan hukum bertetangga
c. Tidak menyalahgunakan hak dan mengganggu kepentingan orang lain

Azas Kebebasan Berkontrak

Azas Monogami

PERKEMBANGAN KUHPerdata DI INDONESIA

? Hukum Perdata Eropa (Code Civil Des Francais) dikodifikasi tanggal 21 Maret 1804.
? Pada tahun 1807, Code Civil Des Francais diundangkan dengan nama Code Napoleon.
? Tahun 1811 – 1830, Code Napoleon berlaku di Belanda.
? KUHPerdata Indonesia berasal dari Hukum Perdata Belanda, yaitu buku “Burgerlijk Wetboek” (BW) dan dikodifikasi pada tanggal 1 Mei 1848.
? Setelah kemerdekaan, KUHPerdata tetap diberlakukan di Indonesia. Hal ini tercantum dalam pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 yang menyebutkan bahwa segala badan negara dan peraturan yang ada (termasuk KUHPerdata) masih tetap berlaku selama belum ada peraturan yang baru menurut UUD ini.
? Perubahan yang terjadi pada KUHPerdata Indonesia :
o Tahun 1960 : UU No.5/1960 mencabut buku II KUHPerdata sepanjang mengatur tentang bumi, air serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya kecuali hypotek
o Tahun 1963 : Mahkamah Agung mengeluarkan Surat Edaran tertanggal 5 September 1963, dengan mencabut pasal-pasal tertentu dari BW yaitu : pasal 108, 824 (2), 1238, 1460, 1579, 1603 x (1),(2) dan 1682.
o Tahun 1974 : UU No.1/1974, mencabut ketentuan pasal 108 tentang kedudukan wanita yang menyatakan wanita tidak cakap bertindak.

HUKUM PERORANGAN

Subjek hukum adalah segala sesuatu yang dapat menjadi pendukung hak dan kewajiban.
Subjek hukum terdiri atas :
1. Manusia / Perorangan ( Natuurlijk Persoon )
2. Badan Hukum ( Rechtpersoon )
Status manusia sebagai subjek hukum merupakan kodrat / bawaan dari lahir, sedangkan status badan hukum sebagai subjek hukum ada karena pemberian oleh hukum.

Manusia dan badan hukum sama-sama manyandang hak dan kewajiban. Hal-hal yang membatasi kewenangan hukum manusia adalah tempat tinggal, umur, nama dan perbuatan seseorang.

NAMA, KEWARGANEGARAAN DAN DOMISILI

Kewarganegaraan dapat mempengaruhi kewenangan berhak seseorang, contoh : dalam pasal 21 (1) UUPA ? hanya WNI yang dapat mempunyai hak milik.

Domisili / tempat tinggal adalah tempat dimana seseorang melakukan kegiatannya sehari-hari.

Macam-macam domisili :
A. tempat kediaman sesungguhnya, terbagi atas :
– tempat kediaman bebas ? bebas memilih tenpa dipengaruhi pihak manapun.
– tempat kediaman tidak bebas ? terikat oleh pihak lain, mis: rumah dinas.
B. tempat kediaman yang dipilih, terbagi atas :
– dipilih atas dasar ketetapan UU ? dalam hukum acara, waktu melakukan eksekusi dari vonis.
– Dipilih secara bebas ? misal dalam waktu melakukan pembayaran, dipilih kantor notaris.

KEWENANGAN BERHAK

Kewenangan berhak manusia ada sejak dia dilahirkan hidup ( jika dilahirkan meninggal, tidak ada kewenangan berhak ? pasal 2 BW ) sampai ia meninggal tanpa tergantung pada faktor agama, jenis kelamin, keadaan ekonomi, serta kedudukan dalam masyarakat. Sedangkan kewenangan berhak badan hukum diawali sejak berdiri dan diakhiri dengan dibubarkannya badan hukum tersebut.

Yang membatasi kewenangan berhak manusia :
? Kewarganegaraan
? Tempat tinggal
? Kedudukan / jabatan
? Tingkah laku / perbuatan
? Jenis kelamin, hal tiada ditempat

Kewarganegaraan
Yang membatasi kewenangan berhak WNA di Indonesia:
o Tarif pajak lebih tinggi
o Tidak boleh berpolitik dan berideologi
o Terbatas dalam kegiatan perseroan dan perkumpulan
o Tidak boleh duduk dalam pemerintahan

Tempat tinggal
Contoh: seseorang yang berdomosili di kota Batam tidak dapat menjadi pemilih pada Pemilu walikota Tanjungpinang.

Kedudukan / jabatan
Contoh : hakim dan pejabat hukum tidak boleh memiliki barang-barang dalam perkara yang dilelang atas dasar keputusan pengadilan.

Tingkah Laku / Perbuatan
Contoh : kekuasaan orangtua / wali dapat dicabut oleh pengadilan jika orangtua/wali tersebut pemabuk, suka aniaya anak, dsb.

Jenis Kelamin dan hal tiada ditempat
Antara laki-laki dan wanita terdapat perbedaan hak dan kewajiban. Dikatakan hal tiada ditempat / keadaan tidak hadir apabila tidak ada kabar atau pemberitahuan untuk waktu yang cukup lama (5 tahun berturut-turut). Bisa disebabkan meninggal, tidak tahu asal usul, dsb.

KECAKAPAN BERBUAT

Pendewasaan ? meniadakan keadaan belum dewasa kepada seseorang agar dapat melakukan perbuatan hukum.

2 macam pendewasaan :
a. penuh (sempurna), anak dibawah umur memperoleh kedudukan sama dengan orang dewasa dalam semua hal.
b. terbatas, hanya disamakan dalam hal perbuatan hukum, namun tetap berada dibawah unmur.

PENGAMPUAN

? keadaan dimana seseorang tidak dapat mengendalikan emosinya, karena sifat-sifat pribadinya sehingga oleh hukum dianggap tidak cakap untuk bertindak sendiri dalam hukum.

Curandus ? orang yang dibawah pengampuan
Curator ? orang yang ditunjuk sebagai wakil dari seorang curandus
Curatele ? lembaga pengampuan

Pengampuan terjadi karena adanya keputusan hakim yang didasarkan pada adanya permohonan, yang dapat diajukan oleh :
? Keluarga sedarah
? Keluarga semenda dalam garis menyimpang sampai derajat keempat
? Suami terhadap istri dan sebaliknya
? Diri sendiri
? Kejaksaan

Akibat pengampuan :
o Orang tersebut kedudukannya sama dengan anak dibawah umur
o Perbuatan hukum yang dilakukan dapat dibatalkan ( dapat dimintakan pembatalannya oleh curator)
o Pengampuan berakhir apabila keputusan hakim tersebut dicabut atau karena meninggalnya curandus

BADAN HUKUM ( RECHTPERSOON)

Istilah badan hukum tidak ada dalam KUHPerdata, namun dalam Buku III KUHPerdata, terdapat istilah perkumpulan, yang terbentuk oleh adanya suatu perjanjian khusus. Perkumpulan itu dapat kita artikan dengan badan hukum.

Syarat berdirinya badan hukum :
A. Syarat Formal, yaitu syarat yang harus dipenuhi sehubungan dengan permohonan untuk mendapatkan status hukum
B. Syarat Material :
1. yang diminta oleh UU ( pasal 1653 KUHPerdata )
2. menurut doktrin : adanya kekayaan yang terpisah, tujuan, kepentingan tersendiri dan organisasi yang teratur.

Pembagian badan hukum
Menurut Jenisnya :
a. Badan Hukum Publik (negara, pemda, BI, Perusahaan Negara berdasarkan PP, dsb)
b. Badan Hukum Perdata (PT, koperasi, parpol, yayasan, badan amal, wakaf, dsb)

Menurut Sifatnya :
a. Korporasi (gabungan orang yang mempunyai kewajiban yang berbeda dengan anggota lainnya)
b. Yayasan (tiap kekayaan bukan merupakan kekayaan orang/badan dan diberi tujuan tertentu)

Teori-Teori Badan Hukum
? Teori Fictie ( F.C. von Savigny; da Houwing; C.W. Opzoomer)
? Badan hukum merupakan orang buatan yang dapat melakukan perbuatan hukum seperti manusia.
? Teori Harta Kekayaan (A. Brinz; E.J.J. van der Heyden)
? Hanya manusia yang bisa menjadi subjek hukum, namun ada kekayaan yang terikat dengan tujuan tertentu yang dinamakan badan hukum.
? Teori Milik Bersama (Planiol; Molengraaff)
? Hak dan kewajiban badan hukum adalah hak dan kewajiban para anggota bersama. Badan hukum hanya suatu konstruksi yuridis saja.
? Teori Kenyataan Yuridis (Mejers)
? Badan hukum merupakan suatu realiteit, konkrit, riil walaupun tidak bisa diraba. Mejers menekankan agar dalam mempersamakan badan hukum dengan manusis hanya pada bidang hukum saja.
? Teori Organ (Otto van Gierke; Mr. L.C. Polano)
? Badan hukum bukan abstrak dan bukan kekayaan yang tidak bersubjek, tetapi merupakan sesuatu yang riil yang dapat membentuk kemauan sendiri dengan perantaraan alat-alat yang ada (pengurus & anggota) sama seperti manusia lainnya.

Yang bertindak mewakili badan hukum adalah para pengurusnya yang penunjukkannya berdasarkan AD/ART dan tidak dapat bertindak sewenang-wenang.

CATATAN SIPIL

Macam-macam akta catatan sipil :
Akta kelahiran ? mencatat peristiwa kelahiran seseorang.
a. Akta Kelahiran Umum, mencatat berdasarkan waktu pelaporan kelahiran dalam batas waktu selambat-lambatnya 60 hari kerja (WNI) dan 10 hari kerja (WNA).
b. Akta Kelahiran Istimewa, mencatat kelahiran bagi laporan yang telah melampaui batas waktu.
c. Akta Kelahiran Dispensasi, mencatat mereka yang lahir sebelum tanggal 31 Desember 1985.
Akta Kematian ? mencatat peristiwa kematian seseorang.
Akta Perkawinan ? mencatat peristiwa perkawinan.
Akta Perceraian ? mencatat peristiwa perceraian.

HUKUM PERKAWINAN

Pengertian perkawinan menurut Undang-Undang Pokok Perkawinan:
? suatu ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membantuk keluarga ( rumah tangga) yang bahagia, kekal berdasarkan Ketuhana Yang Maha Esa.

Syarat dapat melangsungkan perkawinan menurut pasal 6 UUPP:
? Persetujuan kedua belah pihak
? Seseorang yang belum berumur 21 tahun harus mendapat persetujuan dari orangtua, jika orangtua sudah meninggal dapat meminta persetujuan dari wali/keluarga yang mempunyai hubungan darah garis lurus keatas.

Azas-azas Perkawinan
1. Tujuan Perkawinan
? membentuk keluarga / rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Membentuk keluarga : membentuk kesatuan masyarakat terkecil yang terdiri dari suami, istri dan anak.
Membentuk rumah tangga : membentuk kesatuan hubungan suami istri dalam satu wadah yang disebut rumah kediaman bersama.
2. Sahnya perkawinan
? jika dilakukan menurut agama dan kepercayaan masing-masing, dan dicatat dalam catatan sipil.
3. Azas Monogami
? seorang suami / istri hanya diperbolehkan memiliki satu orang istri / suami. Jika dikehendaki dan diizinkan oleh agamanya, maka seseorang suami dapat beristri lebih dari satu setelah memenuhi persyaratan yang diputuskan pengadilan.
4. Prinsip Perkawanan
? kedua belah pihak sudah dewasa dan matang jiwa raganya. Perkawinan dilarang antara mereka yang mempunyai hubungan darah garis lurus keatas dan kebawah.
5. Mempersukar Terjadinya Perceraian
? karena tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal, maka UU menganut prinsip ini mempersukar terjadinya perceraian.
6. Hak dan Kedudukan Istri
? hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan suami baik dalam kehidupan rumah maupun masyarakat.

Pencegahan Perkawinan
Pencegahan perkawinan dapat dilakukan apabila ada pihak yang tidak memenuhi syarat.
Syarat dapat melangsungkan perkawinan :
a. pria berumur 19 tahun dan wanita 16 tahun
b. terkena larangan perkawinan pasal 8 UUPP
c. tidak terikat perkawinan dgn orang lain, apabila terikat, harus mendapat izin dari istri pertama dan diizinkan pengadilan untuk kawin lagi
d. tidak memenuhi tata cara pelaksanaan perkawinan yang telah diatur sendiri

Pihak yang berhak mencegah perkawinan :
a. keluarga dalam garis lurus keatas dan kebawah
b. saudara
c. wali
d. wali nikah
e. pengampu dari salah satu calon mempelai
f. pihak-pihak yang berkepentingan

Pembatalan Perkawinan
Pembatalan perkawinan dapat diajukan apabila salah satu pihak masih terikat perkawinan dengan orang lain dan apabila perkawinan tersebut dilangsungkan di bawah ancaman yang melanggar hukum.
Pihak yang dapat membatalkan perkawinan :
a. keluarga dalam garis lurus keatas masing-masing pihak
b. suami atau istri
c. pejabat yang berwenang selama perkawinan belum diputuskan

Akibat Perkawinan
Terhadap suami dan istri, harus:
o Memikul kewajiban hukum, setia, hak dan kedudukan seimbang
o Tinggal bersama
o Suami melindungi keluarga
o Hubungan mengikat / timbal balik

Terhadap harta perkawinan:
o Harta bawaan tetap dibawah penguasaan masing-masing.
o Harta perkawinan adalah benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama, dengan kata lain jika terjadi perceraian, harta perkawinan harus dibagi dua sepanjang tidak ditentukan lain

Terhadap keturunan / kedudukan anak:
o Kekuasaan orangtua mulai sejak kelahiran anak dan berakhir ketika anak dewasa/menikah/dicabut oleh pengadilan.
o Orangtua wajib memelihara dan mendidik anak sekalipun kehilangan kekuasaan sebagai orangtua/wali.
o Anak menjadi ahli waris yang sah.

Putusnya Perkawinan
Putusnya perkawinan dapat disebabkan oleh :
1. Kematian
2. Perceraian
3. Atas keputusan pengadilan

Alasan mengajukan perceraian :
a. setelah adanya perpisahan meja dan ranjang serta pernyataan bubarnya perkawinan
b. alasan lain seperti berbuat zina, meninggalkan pihak lain tanpa alasan, melakukan KDRT, cacat badan / penyakit, tidak bisa menjalankan kewajiban, selalu terjadi pertengkaran dan perselisihan.

Tata cara perceraian diatur dalam pasal 14-18 PP no 9/1975. Perceraian atas keputusan pengadilan terjadi karena adanya gugatan perceraian istri terhadap suami (cerai gugat)

Perceraian diajukan suami ? cerai talaq
Perceraian diajukan istri ? cerai gugat

Proses perceraian
1. Pemanggilan
• dilakukan oleh jurusita PN atau petugas PA
• dipanggil 3 hari sebelum sidang
• Jika tidak jelas maka pemanggilan dilakukan dengan cara pengumuman baik melalui pengadilan, media massa maupun perwakilan RI di Luar Negeri.
2. Persidangan
• 30 hari setelah gugatan diterima
• Dapat hadir sendiri / didampingi kuasa haknya
• Pemeriksaan dengan sidang tertutup
• Gugatan dapat diterima tanpa kehadiran tergugat
3. Perdamaian
• Dilakukan sebelum dan selama gugatan perceraian belum diputuskan hakim
• Perdamaian dapat dilakukan oleh pengadilan dengan/tanpa abntuan pihak lain seperti mediator
• Jika terjadi perdamaian maka gugatan baru tidak dapat diajukan lagi dengan alasan yang sama
4. Putusan
• Disampaikan dalam sidang terbuka
• Perceraian beserta akibatnya berlaku sejak dilakukan pencatatan oleh petugas pencatat ( kecuali bagi Islam) terhitung sejak jatuhnya putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap

Akibat Putusnya Perkawinan
Terhadap anak dan istri:
o Bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan anak atau sesuai dengan keputusan pengadilan
o Mantan suami berkewajiban memberi biaya penghidupan kepada mantan istri
o Hakim dapat menunjuk pihak ketiga bagi anak

Terhadap harta perkawinan:
o Harta bawaan tetap dibawah penguasaan masing-masing
o Harta bersama diatur menurut hukum masing-masing, yaitu dibagi dua untuk suami dan istri

Terhadap status keperdataan dan kebebasan
o Keduanya tidak terikat lagi
o Bebas melakukan perkawinan dengan pihak lain sepanjang tidak bertentangan dengan UU dan agama masing-masing. Bagi wanita untuk melakukan perkawinan lagi ada masa tunggu 3 bulan. Hal ini untuk memastikan apakah mantan istri sedang hamil atau tidak.

Perkawinan campuran
? perkawinan yang dilakukan 2 orang yang berbeda kewarganegaraannya.

Perkawinan campuran berakibat pada kewarganegaraan suami/istri dan keturunannya.

HUKUM BENDA

? keseluruhan aturan hukum yang mengatur mengenai benda, meliputi pengertian, macam-macam benda, dan hak-hak kebendaan.

Hukum Benda bersifat tertutup dan memaksa.
Tertutup ? seseorang tidak boleh mengadakan hak kebendaan jika hak tersebut tidak diatur dalam UU
Memaksa ? harus dipatuhi dan dituruti, tidak boleh menyimpang.

Macam-macam benda / barang
1. Benda berwujud dan tidak berwujud
Arti penting pembagian ini adalah, bagi benda berwujud bergerak dilakukan dengan penyerahan langsung benda tersebut, bagi benda berwujud tidak bergerak dilakukan dengan balik nama. Contoh yang menggunakan balik nama : tanah, rumah dsb. Sedangkan bagi bend a tidak berwujud (seperti piutang) bisa dilakukan dengan cara cessie ataupun dengan cara penyerahan surat secara langsung.

2. Benda bergerak dan tidak bergerak
Arti pentingnya pembagian ini terletak pada penguasaan (bezit), penyerahan (levering), daluarsa (verjaring), serta pembebanan (berzwaring).

Benda Bergerak Benda Tidak bergerak
Penguasaan Orang yang menguasai benda dianggap pemiliknya Orang yang menguasai benda belum tentu adalah pemiliknya
Penyerahan Dilakukan dengan langsung Dilakukan dengan balik nama
Daluarsa Tidak mengenal daluarsa Dikenal daluarsa
Pembebanan Dengan penggadaian Dengan di hypotek, hak tanggungan

3. Benda habis dipakai dan benda tidak habis dipakai
Arti pentingnya pembagian ini terletak pada waktu pembatalan perjanjiannya. Jika dalam perjanjian objeknya adalah benda habis dipakai, apabila terjadi pembatalan perjanjian maka akan terjadi kesulitan untuk pemulihan objek tersebut karena telah terpakai. Maka adri itu, penyelesaiannya adalah dengan cara mengganti dengan benda yang sejenis dan senilai.

4. Benda yang sudah ada dan yang akan ada
Arti pentingnya pembagian ini terletak pada pembebanan sebagai jaminan hutang atau pelaksanaan perjanjian. Sesuai dengan pasal 1320 KUHPerdata, syarat sahnya perjanjian adalah adanya sepakat,cakap hukum, objek tertentu, dan halal. Jika objek yang dalam perjanjian itu adalah barang yang sudah ada, maka perjanjian sah-sah saja. Sebaliknya apabila ibjek yang di-perjanjikan adalah barang yang akan ada, maka perjanjian itu batal demi hukum.

5. Benda dalam perdagangan dan benda di luar perdagangan
Arti pentingnya terletak pada cara pemindahtanganan. Benda dalam perdagangan dapat diperjualbelikan dan diwariskan secara bebas. Tetapi, jika benda di luar perdagangan tidak dapat diperjualbelikan ataupun diwariskan. Contoh benda di luar perdagangan : benda wakaf, narkotika, perdagangan wanita untuk pelacuran, dan lain sebagainya.

6. Benda dapat dibagi dan tidak dapat dibagi
Arti pentingnya pembagian terletak pada pemenuhan prestasi suatu perikatan. Contoh benda dapat dibagi : beras, minyak, air, kertas, dll. Sedangkan contoh benda tidak dapat dibagi : binatang, manusia, mobil, rumah, kapal, dll. Suatu benda dikatakan tidak dapat dibagi karena akan berubah nama dan fungsinya.

7. Benda terdaftar dan benda tidak terdaftar
Pada benda terdaftar, kepemilikan dapat dilacak dengan mudah sedangkan pada benda tidak terdaftar lebih sulit untuk pembuktian kepemilikan. Contoh benda terdaftar : rumah, mobil, kapal, motor, dll. Benda-benda tersebut ada surat kepemilikannya. Sedangkan contoh benda tidak terdaftar : uang, telepon, kursi, dll.

 

Oleh : Nadia

? suatu lembaga yang dibentuk oleh pemerintah untuk mencatat peristiwa-peristiwa yang menyangkut status keperdataan dan terbuka untuk umum.Dari beberapa pendapat ahli, dapat disimpulkan bahwa badan hukum itu :
• Adalah persekutuan orang-orang
• Dapat melakukan perbuatan hukum
• Mempunyai harta kekayaan sendiri
• Mempunyai pengurus
• Mempunyai hak dan kewajiban
• Dapat menggugat dan digugat di pengadilanOrang yang cakap (wenang melakukan perbuatan hukum ) menurut UU adalah :
1. orang yang dewasa ( diatas 18 tahun) atau pernah melangsungkan perkawinan
2. tidak dibawah pengampuan, yaitu orang dewasa tapi dalam keadaan dungu, gila, pemboros, dll.
3. tidak dilarang oleh UU, misal orang yang dinyatakan pailit oleh UU dilarang untuk melakukan perbuatan hukum.? kewenangan untuk mendukung hak dan kewajiban keperdataan.Kegunaan nama :
– membedakan satu individu dengan individu lainnya
– mengetahui hak dan kewajibannya
– sebagai identifikasi seseorang sebagai subjek hukum
– untuk mengetahui keturunan, asal usul seseorang
– dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kekeluargaan dan pembagian harta warisanSeorang laki-laki dalam waktu yang sama hanya diperbolehkan memunyai satu orang istri. Namun dalam pasal 3 ayat (2) UU No.1 Tahun 1974 tentang Undang-Undang Pokok Perkawinan (UUPP) membuka peluang untuk berpoligami dengan memenuhi syarat-syarat pada pasal 3 ayat (2), pasal 4 dan pasal 5 pada UUPP.? Setiap orang berhak mengadakan perjanjian apapun juga, baik yang telah diatur dalam UU maupun yang belum ( pasal 1338 KUHPerdata ) asal perjanjian tersebut tidak bertentangan dengan UU, ketertiban umum dan kesusilaan.? Dapat menikmati dengan sepenuhnya dan menguasai sebebas-bebasnya (hak eigendom) dan dapat melakukan perbuatan hukum, selain itu juga dapat memiliki hasil, memakai, merusak, memelihara, dsb.

Perpaduan dalam Kurikulum Civic dan Kewarganegaraan

Filed under: Uncategorized — Tisna @ 4:22 am

Perpaduan dalam Dasar Pendidikan Merdeka

Pembetukan dasar pelajaran kebangsaan menekankan pada pendidikan sebagai instrumen untuk mencapai perpaduan politik, pembangunan ekonomi, dan integrasi sosial yang menjadi wadah negara sejak awal kemerdekaan tahun 1957. Rujukan asas kepada dasar perpaduan melalui pendidikan selepas merdeka adalah Penyata Razak 1956. Penyata Razak lebih menekankan kepada polisi pendidikan dalam memuaskan aspirasi setiap kumpulan utama budaya. Semenjak laporan Razak, penyata-penyata pendidikan senantiasa mengambil perhatian kepada langkah memupuk perpaduan rakyat.

 

Kemunculan Pendidikan Civic

Masyarakat Malaysia pada awal kemerdekaan boleh dianggap belum mempunyai kekuatan untuk menjamin perpaduan antar-etnik dan ketika itu mayoritas rakyat kurang menerima pendidikan formal. Dari segi ekonomi, sosial dan budaya antar-etnik mudah dimanipulasi. Pengalaman Malaysia dalam mengendalikan hubungan etnik bukan sesuatu yang mudah, ciri keberbagaian etnik pernah menimbulkan pertikaian antar-etnik. Yang paling berkesan adalah pertikaian terbuka antara etnik pada 13 Mei 1969 yang dianggap sebagai pembuka minda kepada bentuk falsafah negara dalam mencapai kesatuan.

Jurang ekonomi dan sosial merupakan faktor utama tercetusnya konflik terbuka antar-etnik. Untuk mengatasi jurang-jurang ekonomi dan sosial berlaku penggubalan polisi yang dikenal sebagai Dasar Ekonomi Baru (DEB). DEB berfungsi untuk mencapai perpaduan melalui strategi penyusunan masyarakat dan pemberantasan kemiskinan tanpa mengira etnik dalam kalangan semua rakyat. Peristiwa 13 Mei 1969 membawa kemunculan Ideologi Rukun Negara tahun 1970. Ideologi ini membawa dampak besar terhadap proses indoktrinasi kenegaraan terutama di sekolah-sekolah. Sebenarnya, pengenalan pendidikan civic dan kewarganegaraan di sekolah-sekolah Malaysia pada tahun 1972 merupakan lanjutan daripada Ideologi Rukun Negara tersebut.

 

Perlunya Pendidikan Civic dan Kewarganegaraan

Pendidikan civic sebagai suatu mata pelajaran di sekolah-sekolah Malaysia sebenarnya telah dilupakan lebih dari 20 tahun sejak 1982. Dalam jangka waktu itu, banyak terjadi peristiwa-peristiwa yang merusak kerukunan sebuah bangsa atau bangsa. Persoalan antar-etnik sering menjadi pembicaraan akhir-akhir ini, khususnya golongan muda tidak begitu akrab berinteraksi dengan etnik yang berbeda. Segelintir warga telah didakwa melecehkan lambang-lambang negara, seperti membakar bendera negara, menjadikan bendera jalur gemilang sebagai penutup aurat, mempermainkan institusi raja, mempersoalkan kedudukan agama resmi, mengagungkan perjuangan komunisme, dan sebagainya.

Semangat kenegaraan dalam kalangan warga negara bukan sesuatu yang sembarangan untuk dilabel. Maksudnya, mungkin ada yang mengatakan perlakuan seperti menukar retak dan seni lagu kebangsaan bukan berarti tidak cinta negara, malahan ia dianggap sesuatu yang imajinatif dan kreatif. Namun, pikiran-pikiran atau perbuatan-perbuatan seperti itu di luar norma masyarakat Malaysia. Untuk menjawab persoalan ini, sekurang-kurangnya kita tidak boleh lari daripada mengaitkannya pada unsur globalisasi dari sistem pendidikan itu sendiri. Tetapi pengaruh globalisasi secara positif mempunyai kebaikan tersendiri. Globalisasi telah membuka ruang untuk perubahan bagi penyelesaian masalah-masalah baru.

Dasar-dasar pemerintahan di Malaysia sedikit banyak telah mengalami liberalisme dalam menerima pengaruh global. Dasar pemerintahan yang menggalangkan perkembangan teknologi telah menyebabkan masalah baru yang dapat dipelajari dan dapat mempengaruhi generasi muda. Liberalisme juga terjadi di dalam sistem pendidikan di Malaysia yang merupakan suatu penyebab dari wujud ketidaktentuan dari isu bangsa dan negara. Dalam situasi liberalisme pendidikan sekarang adalah tidak mungkin bagi Malaysia untuk mewujudkan satu sistem persekolahan bangsa yang tunggal. Disamping keperluan untuk pengekalan identitas setiap etnik, kewujudan berbagai jenis sekolah juga bersesuaian dengan perkembangan kapitalisme.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa sistem persekolahan di Malaysia telah mempunyai keberbagaian sebagaimana wujud keberbagaian dalam masyarakat. Dari satu segi, situasi keberbagaian adalah memenuhi tuntutan kumpulan-kumpulan etnik yang berkepentingan. Dari segi lain pula, keberbagaian menimbulkan persoalan untuk mencari penyatuan. Permasalahan utamanya ialah mengenai penyatuan berbagai etnik untuk memenuhi agenda perpanuan nasional.

 

Unsur Perpaduan dalam Kurikulum Pendidikan Civic dan Kewarganegaraan

Pendidikan civic dan kewarganegaraan telah diperkenalkan sebagai suatu mata pelajaran pada tahun 2005. Secara nyata ia memberi tumpuan utama pada isu perpaduan, patriotisme, dan pemahaman keberbagaian budaya masyarakat Malaysia. Cara mewujudkan perpaduan adalah antara objektif-objektif utama yang ditekankan. Objektif-objektif itu adalah pemahaman berbagai agama, tradisi, dan budaya masyarakat Malaysia untuk mewujudkan masyarakat yang bersatu padu.

Pada setiap tingkat, kurikulum dibagi dalam bertema. Di tingkat sekolah rendah, tema-tema yang dipakai adalah:

Sayangi Diri.

Sayangi Keluarga.

Hidup Bersama di Sekolah dan Masyarakat.

Kenali Budaya Malaysia.

Malaysiaku Negaraku.

Sedia Hadapi Cabaran.

Secara menyeluruh setiap tema memang mempunyai kaitan dengan yang lain. Namun begitu, tema berkaitan hubungan etnik yang paling nyata ialah Kenali Budaya Malaysia dan Malaysiaku Negaraku. Dalam tema “Kenali Budaya Malaysia”, penekanannya adalah kepada mengenali dan mengapresiasi kekayaan budaya Malaysia dan tanggung jawab mengekalkan keberbagaian kebudayaan warisan budaya itu. Sedangkan dalam tema “Malaysiaku Negaraku”, aspek-aspek yang diketengahkan berkaitan dengan perjuangan tokoh-tokoh kemerdekaan dan tanggung jawab mengekalkan kemerdekaan.

Berbeda dengan sekolah menengah, tema yang dipakai adalah:

Pencapaian Kendiri.

Hubungan Kekeluargaan.

Hidup Bermasyarakat.

Warisan Keberbagaian Budaya Malaysia.

Malaysia Negara Berdaulat.

Cabaran Masa Depan.

Dari keseluruhannya, analisis terhadap kandungan kurikulum setiap peringkat menyimpulkan bahwa setiap aspek perpaduan sangat di utamakan. Kurikulum juga tidak menunjukkan unsur bias atau memihak kepada setiap etnik. Budaya setiap etnik perlu diterima sebagai budaya Malaysia. Oleh karena itu, dirumuskan bahwa kurikulum pendidikan civic dan kewarganegaraan membayangkan konsep bangsa Malaysia yang diharapkan wujud pada masa depan yang akan datang. Dalam konsep ini tidak ada budaya etnik yang akan dipinggirkan malahan semuanya perlu ditonjolkan. Melalui pendidikan civic dan kewarganegaraan kemungkinan suatu hari nanti rakyat Malaysia akan lebih liberal atau bersifat terbuka, termasuk dalam hal-hal berkaitan dengan agama.

Oleh : Nadia

Mei 26, 2009

Reality Show…

Filed under: Uncategorized — Tisna @ 2:54 am

Dua minggu lalu saat mata kuliah ISBD, salah satu kelompok mempresentasikan makalah dengan tema reality show.Mereka menyimpulkan kalau hampir sebagian besar reality show merupakan rekayasa belaka karena mana ada sih orang yang mau kehidupan pribadinya dipublikasikan.

Ada yang nonton Termehek-mehek hari minggu kemarin ? tepatnya tanggal 24 Mei 2009.Klien yang mengaku diguna-guna pacarnya yang ternyata menderita kelainan jiwa tersebut koq mirip banget sama orang yang ikut Curhat dengan Anjasmara di TPI.Sekedar mirip atau memang orang yang sama ?

Kegelisahan

Filed under: Uncategorized — Tisna @ 2:28 am

Kegelisahan merupakan perasaan kalut yang timbul dalam diri kita yang sebenarnya dibuat oleh kita sendiri, kita menciptakan mereka dalam pikiran melalui ketidakmampuan ataupun kegagalan untuk mengerti bahaya perasaan keakuan dan melalui khayalan yang melambung serta kesalahan dalam menilai setiap kejadian.

Kita dapat merasakan kegelisahan karena kita mempunyai keterbatasan untuk mengetahui hal-hal yang akan datang dan belum terjadi. Rasa gelisah yang tidak berlebihan merupakan naluri tetapi jika berlebihan akan menjadi musuh bagi kita sendiri.

Pada tanggal 20-24 April kemarin, siswa-siswi SMA di seluruh Indonesia melaksanakan Ujian Akhir Nasional (UAN). Pada masa-masa menjelang UAN, para siswa SMA ini akan dihadapkan pada suatu kegelisahan besar yang akan menyerang kepercayaan diri mereka. Hal ini bisa berupa ketidakpercayaan diri dalam menghadapi dan menjawab soal-soal tersebut. Kegelisahan seperti ini sering sekali menjadi batu sandungan yang menyebabkan ketidaklulusan dalam UAN tersebut.

Untuk mengatasi kegelisahan yang muncul dalam diri kita maka diperlukan sebuah kemantapan hati dan berikhtiar semaksimal mungkin lalu menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.

Perkembangan Sosial dan Bahasa Remaja

Filed under: Uncategorized — Tisna @ 2:17 am

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini perkembangan sosial remaja semakin meningkat dengan diikuti perubahan tata cara dalam berbahasa. Perhatian remaja mulai tertuju pada pergaulan di dalam masyarakat dan mereka membutuhkan pemahaman tentang norma kehidupan yang kompleks. Perkembangan sosial remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kondisi keluarga, kematangan anak, dan sebagainya.

Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat. Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti usia anak, kondisi keluarga, tingkat kecerdasan, dan sebagainya.

Perkembangan sosial dan bahasa remaja memberikan dampak positif maupun negatif. Seperti halnya pemilihan dan penggunaan kosa kata sesuai tingkat sosial keluarganya.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang dibahas pada makalah ini adalah :

  1. Bagaimana makna dan karakteristik perkembangan sosial remaja, faktor-faktor yang mempengaruhi dan pengaruh terhadap tingkah laku, serta upaya pengembangan hubungan sosial remaja dan implikasi dalam penyelenggaraan pendidikan
  2. Bagaimana makna dan karakteristik perkembangan bahasa remaja, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, pengaruh terhadap kemampuan berpikir serta upaya pengembangannya

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Perkembangan Sosial Remaja

2.1.1.  Pengertian Perkembangan Hubungan Sosial

Pengertian perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antarmanusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia.

2.1.2.  Pengertian Perkembangan Sosial Remaja

Manusia tumbuh dan berkembang pada masa bayi ke masa dewasa melalui beberapa langkah dan jenjang. Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangan itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Interaksi sosial merupakan proses sosialisasi yang mendudukkan anak sebagai insan yang secara aktif melakukan proses sosialisasi. Bersosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri terhadap lingkungan kehidupan sosial. Pada masa remaja, interaksi dan pengenalan/pergaulan dengan teman sebaya terutama lawan jenis menjadi sangat penting. Pada akhirnya pergaulan sesama manusia merupakan suatu kebutuhan.

2.1.3.  Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja

Remaja adalah tingkat perkembangan anak yang telah mencapai jenjang menjelang dewasa. Pada jenjang ini, kebutuhan remaja telah cukup kompleks, cakrawala interaksi sosial dan pergaulan remaja telah cukup luas. Dalam penyesuaian diri terhadap lingkungannya, remaja telah mulai memperhatikan dan mengenal berbagai norma pergaulan, yang berbeda dengan norma yang berlaku sebelumnya di dalam keluarganya. Remaja menghadapi berbagai lingkungan, bukan saja bergaul dengan berbagai kelompok umur. Dengan demikian, remaja mulai memahami norma pergaulan dengan kelompok remaja, kelompok anak-anak, kelompok dewasa, dan kelompok orang tua. Pergaulan dengan sesama remaja lawan jenis dirasakan yang paling penting tetapi cukup sulit, karena di samping harus memperhatikan norma pergaulan sesama remaja, juga terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan untuk memilih teman hidup.

Kehidupan sosial remaja ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan emosional. Remaja sering mengalami sikap hubungan sosial yang tertutup sehubungan dengan masalah yang dihadapinya. Menurut ”Erick Erison” bahwa masa remaja terjadi masa krisis, masa pencarian jati diri. Dia berpendapat bahwa penemuan jati diri seseorang didorong oleh sosiokultural. Sedangkan menurut Freud, kehidupan sosial remaja didorong oleh dan berorientasi pada kepentingan seksual. Pergaulan remaja benyak diwujudkan dalam bentuk kelompok-kelompok, baik kelompok besar maupun kelompok kecil.

Nilai positif dalam kehidupan kelompok adalah tiap anggota kelompok belajar berorganisasi, memilih pemimpin, dan mematuhi aturan kelompok.

2.1.4.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial

  1. Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya keluarga merekayasa perilaku kehidupan budaya anak.

  1. Kematangan Fisik dan Psikis

Bersosialisasi merupakan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu mempertimbangkan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping itu, kemampuan berbahasa ikut pula menentukan.

Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik, sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.

  1. Status Sosial Ekonomi Keluarga

Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu, ”ia anak siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan kehidupan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya akan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya.

  1. Pendidikan

Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberi warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, masyarakat. dan kelembagaan. Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan pendidikan (sekolah).

Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat, tetapi dikenalkan pada norma kehidupan bangsa (nasional) dan norma kehidupan antar bangsa. Etik pergaulan dan pendidikan moral diajarkan secara terprogram dengan tujuan untuk membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

  1. Kapasitas Mental : Emosi, dan Intelegensi

Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Perkembangan emosi berpengaruh sekali terhadap perkembangsn sosial anak. Anak yang berberkemampuan itelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu, kemampuan intelektual tinggi, kemampuann berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkemabangan sosial anak.

Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami ornag lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang berkemampuan intelektual tingggi.

2.1.5. Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku

Pikiran remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dan teori-teori yang menyebabkan sikap krirtis terhadap situasi dan orang lain. Pengaruh egosentris sering terlihat pada pemikiran remaja, yaitu :

  1. Cita-cita dan idealisme yang baik, terlalu menitik beratkan pikiran sendiri tanpa memikirkan akibat jauh dan kesulitan-kesulitan praktis.
  2. Kemampuan berpikir dengan pendapat sendiri belum disertai pendapat orang lain.

Pencerminan sifat egois dapat menyebabkan dalam menghadapi pendapat orang lain, maka sifat ego semakin kecil sehingga terjadi perubahan tingkah laku yang semakin baik dan matang.

2.1.6. Perbedaan Individual dalam  Perkembangan Sosial.

Bergaul dengan sesama manusia (sosialisasi) dilakukan oleh setiap orang, baik secara individual maupun kelompok. Dilihat dari berbagai aspek, terdapat perbedaan individual manusia, yang hal itu tampak juga dalam perkembangan sosialnya.

Sesuai dengan teori komprehensif tentang perkembangan sosial yang dikembangkan oleh Erickson, maka di dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya manusia menempuh langkah yang berlainan satu sama lain. Dalam teori Erickson dinyatakan bahwa manusia (anak) dalam kesatuan budaya yang utuh, alam dan kehidupan masyarakat menyediakan segala hal yang dibutuhkan manusia. Namun sesuai dengan minat, kemampuan, dan latar belakang kehidupan budayanya maka berkembang kelompok-kelompok sosial yang beranekaragam.

2.1.7. Upaya Pengembangan Hubungan Sosial Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan.

Penciptaan kelompok sosial remaja perlu dikembangkan untuk memberikan rangsangan terhadap mereka ke arah perilaku yang bermanfaat dan dapat diterima khalayak. Kelompok olahraga, koperasi, kesenian, dan semacamnya di bawah asuhan para pendidik di sekolah atau para tokoh masyarakat di dalam kehidupan msyarakat perlu banyak dibentuk. Khusus di dalam sekolah perlu sering diadakan kegiatan bakti sosial, bakti karya, dan kelompok-kelompok belajar di bawah asuhan para guru pembimbing kegiatan ini hendaknya dikembangluaskan.

2.1.8. Ciri Khas Perkembangan Sosial Remaja.

Perkembangan sosial pada masa puber dapat dilihat dari dua ciri khas yaitu mulai terbentuknya kelompok teman sebaya, baik dengan janis kelamin yang sama atau dengan jenis kelamin yang berbeda dan mulai memisahkan diri dari orang tua.

  1. Kelompok teman sebaya

Percepatan perkembangan pada masa puber berhubungan dengan pemasakan seksual yang akhirnya mengakibatkan suatu perubahan dalam perkembangan sosial. Sebelum memasuki masa remaja biasanya anak sudah mampu menjalin hubungan yang erat dengan teman sebaya. Seiring dengan itu juga timbul kelompok anak-anak untuk bermain bersama atau membuat rencana bersama. Sifat yang khas dari kelompok anak yang belum pubertas adalah behwa kelompok tadi terdiri dari jenis kelamin yang sama. Persamaan sex ini membantu timbulnya identitas jenis kelamin dan yang berhubungan dengan perasaan identifikasi yang mempersiapkan pengalaman identitasnya. Sedangkan pada masa puber, anak sudah mulai berani untuk melakukan kegiatan dengan lawan jenisnya dalam berbagai kegiatan.

  1. Melepas dari Orang Tua

Tuntutan anak untuk memisahkan diri dari orang tua dan menuju ke arah teman-teman sebaya merupakan suatu reaksi terhadap suatu intern anak muda. Sesudah mulainya pubertas timbul suatu diskrepansi yang besar antara kedewasaan jasmaniah dengan ikatan sosial pada orang tua. Dalam keadaan seperti ini banyak pertentangan-pertentangan antara remaja awal dengan orang tua, yaitu perbedaan standar perilaku, merasa menjadi korban, perilaku yang kurang matang, masalah palang pintu, dan metode disiplin.

2.2 Perkembangan Bahasa Remaja

2.2.1. Pengertian Perkembangan Bahasa

Sesuai dengan fungsinya, bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang dalam pergaulannya atau hubungannya dengan orang lain. Bahasa merupakan alat bergaul. Oleh karena itu, penggunaan bahasa menjadi efektif sejak seorang individu memerlukan komunikasi dengan orang lain. Sejak seorang bayi berkomunikasi dengan orang lain, sejak itu pula bahasa diperlukan. Sejalan dengan perkembangan hubungan sosial, maka perkembangan bahasa seseorang (bayi-anak) dimulai dengan meraba (suara atau bunyi tanpa arti) dan diikuti dengan bahasa satu suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana, dan seterusnya melakukan sosialisasi dengan menggunakan bahasa yang kompleks sesuai dengan tingkat perilaku sosial. Jadi, perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, baik alat komunikasi secara lisan, tertulis, maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat.

Bahasa disebut sebagai alat adaptasi sosial apabila seseorang berada di suatu tempat yang memiliki perbedaan adat, tata krama dan aturan-aturan dari tempatnya berasal. Bahasa dalam lingkungan sosial masyarakat satu dengan yang lainnya berbeda. Dari adanya kelompok-kelompok sosial tersebut, menyebabkan bahasa yang digunakan bervariasi. Kebervariasian bahasa ini timbul sebagai akibat dari kebutuhan penutur yang memilih bahasa yang digunakan agar sesuai dengan situasi konteks sosialnya. Oleh karena itu, variasi bahasa timbul bukan karena kaidah-kaidah kebahasaan, melainkan disebabkan kaidah-kaidah sosial yang beraneka ragam.

2.2.2. Karakteristik Perkembangan Bahasa Remaja

Bahasa remaja adalah bahasa yang telah berkembang. Anak remaja telah banyak belajar dari lingkungan, dan dengan demikian bahasa remaja terbentuk oleh kondisi lingkungan. Lingkungan remaja mencakup lingkungan keluarga, masyarakat, dan khususnya pergaulan teman sebaya, dan lingkungan sekolah. Pola bahasa yang dimiliki adalah bahasa yang berkembang di dalam keluarga atau bahasa ibu.

Perkembangan bahasa remaja dilengkapi dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat di mana mereka tinggal. Hal ini berarti proses pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan dengan masyarakat sekitar akan memberi ciri khusus pada perilaku berbahasa. Bersamaan dengan kehidupannya di masyarakat luas, anak (remaja) mengikuti proses belajar di sekolah. Sebagaimana diketahui, di lembaga pendidikan diberikan rangsangan yang terarah sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar. Proses pendidikan bukan memperluas dan memperdalam cakrawala ilmu pengetahuan semata, tetapi juga secara berencana merekayasa perkembangan sistem budaya, termasuk perilaku berbahasa. Pengaruh pergaulan di dalam masyarakat (teman sebaya) terkadang cukup menonjol, sehingga bahasa anak (remaja) menjadi lebih diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang di dalam kelompok sebaya. Dari kelompok itu berkembang bahasa sandi, bahasa kelompok yang bentuknya amat khusus, seperti istilah ”baceman” dikalangan pelajar yang dimaksudkan adalah bocoran soal ulangan atau tes. Bahasa ”prokem” tercipta secara khusus untuk kepentingan khusus pula.

Bahasa gaul remaja adalah dialeg nonformal baik berupa slang atau prokem yang digunakan oleh kalangan remaja perkotaan, bersifat sementara, hanya berupa variasi bahasa, penggunaannya meliputi kosa kata dan intonasi.

2.2.3.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa

Berbahasa terkait erat dengan kondisi pergaulan. Oleh sebab itu, perkembangannya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

  1. Umur anak

Manusia bertambah umur akan semakin matang pertumbuhan fisiknya, bertambah pengalaman, dan meningkat kebutuhannya.

  1. Kondisi Lingkungan

Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memberi andil yang cukup besar dalam berbahasa. Perkembangan bahasa di lingkungan perkotaan akan berbeda dengan di lingkungan pedesaan. Begitu pula perkembangan bahasa di daerah pantai, pegunungan, dan daerah-daerah terpencil dan di kelompok sosial yang lain.

  1. Kecerdasan anak

Untuk meniru lingkungan tentang bunyi atau suara, gerakan, dan mengenal tanda-tanda, memerlukan kemampuan motorik yang baik. Kemampuan motorik seseorang berkolerasi positif dengan kemampuan intelektual atau tingkat berpikir. Ketepatan meniru, memproduksi perbendaharaan kata-kata yang diingat, kemampuan menyusun kalimat dengan baik, dan memahami atau menangkap maksud pernyataan pihak lain, amat dipengaruhi oleh kerja pikir atau kecerdasan seseorang anak.

  1. Satatus Sosial Ekonomi Keluarga

Keluarga yang berstatus ekonomi baik, akan mampu menyediakan situasi yang baik bagi perkembangan bahasa anak-anak dan anggota keluarganya. Rangsangan untuk dapat ditiru oleh anak-anak dari anggota keluarga yang berstatus sosial tinggi berbeda dengan keluarga yang berstatus sosial rendah. Hal ini akan lebih tampak perbedaan perkembangan bahasa bagi anak yang hidup di dalam keluarga terdidik dan tidak terdidik. Dengan kata lain, pendidikan keluarga berpengaruh pula terhadap perkembangan bahasa.

  1. Kondisi Fisik

Kondisi fisik di sini dimaksudkan kondisi kesehatan anak. Seseorang yang cacat yang terganggu kemampuannya untuk berkomunikasi seperti bisu, tuli, gagap, atau organ suara tidak sempurna akan mengganggu perkembangan berkomunikasi dan tentu saja akan mengganggu perkembangannya dalam berbahasa.

2.2.4. Pengaruh Kemampuan Berbahasa terhadap Kemampuan Berpikir

Kemampuan berbahasa dan kemampuan berpikir saling berpengaruh satu sama lain. Bahwa kemampuan berpikir berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa dan sebaliknya, kemampuan berbahasa berpengaruh terhadap kemampuan berpikir. Seseorang yang rendah kemampuan berpikirnya akan mengalami kesulitan dalam menyusun kalimat yang baik, logis, dan sistematis. Hal ini akan berakibat sulitnya komunikasi. Ketidaktepatan hasil pemrosesan pikir ini diakibatkan kekurang mampuan dalam berbahasa.

2.2.5. Perbedaan Individual dalam Kemampuan dan Perkembangan Bahasa.

Menurut Chomsky (Woolflok, dkk., 1984 : 70) anak dilahirkan ke dunia telah memiliki kapasitas berbahasa. Akan tetapi seperti pada bidang yang lain, faktor lingkungan akan mengambil peranan yang cukup menonjol, dalam mempengaruhi perkembangan bahasa anak tersebut.Mereka belajar makna kata dan bahasa sesuai dengan apa yang mereka lihat, dengar, dan mereka hayati dalam kehidupannya sehari-hari. Perkembangan bahasa anak terbentuk oleh lingkungan yang berbeda-beda.

Kemampuan berpikir anak berbeda-beda, sedang berpikir dan bahasa mempunyai kolerasi tinggi; anak dengan IQ tinggi akan berkemampuan bahasa yang tinggi. Nilai IQ menggambarkan adanya perbedaan individual anak, dan dengan demikian, kemampuan mereka dalam bahasa juga bervariasi sesuai dengan variasi kemampuan mereka berpikir.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antarmanusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia. Pergaulan dengan sesama remaja lawan jenis dirasakan yang paling penting tetapi cukup sulit, karena harus memperhatikan pergaulan sesama remaja.

Perkembangan remaja meningkat sejalan dengan perkembangan hubungan sosial. Perkembangan bahasa terkait dengan kognitif, yang berarti faktor intelek sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Ditunjukkan oleh pemilihan dan penggunaan kosa kata sesuai dengan tingkat sosial keluarganya, baik itu dari keluarga dan masyarakat berpendidikan rendah atau buta huruf, atau dari yang memiliki status sosial yang lebih baik dan masyarakat terdidik.

3.2 Saran

# Hendaknya para remaja mampu mamahami makna dan karakteristik perkembangan sosial remaja, faktor-faktor yang mempengaruhi dan pengaruh terhadap tingkah laku, serta mengupayakan pengembangan hubungan sosial remaja serta mengimplikasikannya.

#  Hendaknya remaja mampu memahami makna dan karakteristik perkembangan bahasa remaja, faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta mengupayakannya dan mengiimplikasikannya.

DAFTAR PUSTAKA

Sunarto, dan B. Agung Hartono. 1995. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : Rineka Cipta.

Puspa, Nadia. 2007. Perkembangan Social Remaja.

http://www.nadiapuspa.com/perkembangan-sosial-remaja/jpj.

Diakses tanggal 6 Maret 2009

Antara IQ, EQ, dan SQ

Filed under: Uncategorized — Tisna @ 2:09 am

BAB I

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Dewasa ini teknologi semakin maju, inovasi-inovasi baru selalu bermunculan. Banyak tercipta alat-alat yang mempermudah segala aktivitas manusia. Alat-alat transportasipun semakin canggih, tidak hanya dapat menjelajahi permukaan bumi tapi sudah ditemukan alat-alat transportasi untuk menjelajah luar angkasa seperti ke bulan dan ke Planet Mars. Hal ini menjadikan dunia semakin sempit. Penemuan-penemuan ini merupakan hasil dari kerja otak yaitu pada kecerdasan Intelektual atau Intelegence Quotient (IQ).

Kecerdasan intelektual (IQ) dapat di ukur dan dikategorikan menurut tingkat IQ  itu sendiri. Banyak instansi yang menyaring calon pegawainya melalui tes IQ. Tapi seiring dengan perkembangan zaman, ternyata muncul pandagan bahwa IQ saja tidaklah cukup untuk menentukan kecerdasan dan menjamin kesukseksan seseorang. IQ harus dibarengi dengan kecerdasan lainnya yang disebut EQ (Emotional Quotient) atau kecerdasan emosional. Hal ini dapat diterima oleh masyarakat dalam kurun waktu yang lama sebelum muncul lagi pandangan bahwa IQ dan EQ saya masih belum menjamin kesuksesan seseorang dan masih dibutuhkan kecerdasan lainnya yang disebut SQ (Spritual Quotient) atau kecerdasan spiritual.

Berdasarkan pemikiran kecerdasan yang selalu berkembang inilah, penulis mencoba mengulas lebih dalam tentang IQ, EQ dan SQ serta hubungan dan peranan ketiga macam kecerdasan tersebut.

1.2    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang dibahas dalam makalah ini adalah :

(1)   Apakah pengertian kecerdasan Intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ).

(2)   Bagaimanakah karakteristik IQ, EQ dan SQ

(3)   Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi IQ, EQ dan SQ seseorang.

(4)   Apakah pera IQ, EQ dan SQ bagi kehidupan.

(5)   Bagaimanakah hubungan antara IQ, EQ dan SQ

(6)   Bagaimanakah penarapan IQ, EQ dan SQ dalam kehidupan.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1    Kecerdasan Intelektual (IQ)

2.1.1 Pengertian Kecerdasan Intelektual (IQ)

Kecerdasan intelektual atau IQ mula-mula diperkenalkan oleh Alfred Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke – 20.

Pengertian kecerdasan intelektual (IQ) menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut :

  • Surya Brata (1982)

Kecerdasan intelektual (IQ) didefinisikan sebagai kapasitas yang bersifat umum dari individu untuk mengadakan penyesuaian terhadap situasi-situasi baru atau masalah yang dihadapi.

  • Sorenson (1977)

Kecerdasan interlektual (IQ) adalah kemampuan untuk berpikir abstrak, belajar merespon, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan.

  • Stern (1953)

Kecerdasan intelektual (IQ) adalah daya menyesuaikan diri dengan  keadaan baru dengan menggunakan alat-alat berpikir menurut tujuannya.

  • Thorndike

Intelegence is demonstrable in ability of the individual to make good responses from the stand point of truch of fact“. Orang dianggap memiliki kecerdasan intelektual apabila responnya merupakan respon yang baik atau sesuai terhadap stimulus yang diterimanya.

  • Freeman (1959)

Kecerdasan intelektual dipandang sebagai capacity to integrate experiences, capacity to learn, capacity to perform tasks regarded by psychologist as intellectual and capacity to carry on abstract thinking. Orang yang memiliki kecerdasana intelektual  adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menyatukan pengalaman-pengalaman, kemampuan untuk belajar dengan lebih baik, kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sulit dengan memperhatikan aspek psikologis dan intelektual dan kemampuan untuk berpikir abstrak.

2.1.2 Karakteristik Kecerdasan Intelektual (IQ)

Umumnya orang tua beranggapan hasil tes IQ berkaitan dengan kecerdasan. Anak ber-IQ 130 dianggap berkemampuan luar  biasa dalam segala bidang. Jika anak juga olah raga namun ber IQ taraf rata-rata atau anak yang nilai matematika yang jeblok dan IQ nya taraf rata-rata di anggap bodoh. Pemahaman seperti itu tak tepat, IQ hanya mengukur kemampuan lingguistik dan logika matematika sedangkan kecerdasan  mengacu pada kemampuan problem solving. Kenyataannya IQ tinggi tak menjamin yang bersangkutan berhasil dalam kehidupan kelak, perannya hanya sebesar 20 %. Banyak contoh yang membuktikan hal tersebut antara lain orang yang ber IQ tinggi, namun tentu mampu berempati atau melakukan tindak pidana.

2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Intelektual (IQ)

Seperti yang telah kita ketahui bahwa setiap individu memiliki tingkat IQ yang berbeda-beda. Ada pandangan yang menekankan pada bawaan (pandangan kualitatif) dan ada yang menekankan pada proses belajar (pandangan kuantitatif) sehingga dengan adanya perbedaannya pandangan tersebut dapat diketahui bahwa IQ dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :

1.    Pengaruh faktor bawaan

Banyaknya penelitian yang menunjukkan bahwa individu-individu yang berasal dari satu keluarga atau bersanak saudara, nilai dalam tes IQ mereka berkorelasi tinggi (+ 0,50), orang yang lembar (+ 0,90), yang tidak bersanak saudara (+ 0,20), anak yang di adopsi korelasi dengan orang tua angkatnya (+ 0,10 – + 0,20).

2.    Pengaruh faktor lingkungan

Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh gizi yang di konsumsi oleh karena itu ada hubungan antara pemberian makanan bergizi IQ seseorang.

Pemberian makanan bergizi ini merupakan salah satu pengaruh lingkungan yang amat penting selain guru, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting, seperti pendidikan, latihan berbagai keterampilan, dan lain-lain (khususnya pada masa-masa peka).

3.    Stabilitasi kecerdasan Intelektual (IQ)

Stabilitasi IQ tergantung perkembangan organik otak.

4.    Pengaruh faktor kematangan

Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya.

5.    Pengaruh faktor pembentukan

Pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan IQ.

6.    Minat dan pembawaan yang khas

Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan  itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan (motif-motif) yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar.

7.    Kebebasan

Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah. Manusia mempunyai kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah sesuai dengan kebutuhannya.

2.1.4 Peran Kecerdasan Intelektual (IQ) bagi Kehidupan

IQ adalah kecerdasa manusia yang dimiliki oleh otak manusia yang bisa melakukan beberapa kemampuan, seperti kemampuan yang bisa melakukan kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan masalah, berpikir, abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar.

Berkat kecerdasan intelektualnya memang manusia telah mampu menjelajah ke bulan dan luar angkasa lainnya, menciptakan teknologi informasi dan transportasi yang menjadikan dunia terasa lebih  dekat dan semakin transparan, menciptakan bom nuklir, serta menciptakan alat-alat teknologi lainnya yang super canggih. Namun bersamaan itu pula kerusakan yang menuju kehancuran total sudah mulai, menipis telah menyebabkan terjadinya pemasaran global, bajir dan kekeringan pun terjadi di mana-mana. Gunung-gunung menggeliat dan memuntahkan akan dan lahar panasnya. Penyakit-penyakit ragawi yang sebelumnya tidak dikenal, mulai bermunculan, seperti Flu Burung (Avian lnfluenza). Aids serta jenis-jenis penyakit mematikan lainnya. Bahkan, tatanan sosial-ekonomi menjadi kacau balau karena sikap perilaku manusia yang mengabaikan kejujuran dan amarah (perilaku koruptif dan perilaku manipulatif).

2.2    Kecerdasan Emosional (EQ)

2.2.1 Pengertian Kecerdasan Emosional

Daniel Goleman (1999) adalah salah seorag yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia lainnya yang dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi seseorang, yaki kecerdasan emosional, yang kemudian kita mengenalnya dengan sebulan emosional Quotient (EQ). Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dnegan orang lain.

Para pakar memberikan definisi beragam pada EQ, diantaranya adalah kemampuan untuk menyikapi pengetahuan-pengetahuan emosional dalam bentuk menerima, memahami, dan mengelolanya. Menurut definisi ini, EQ mempunyai empat dimensi berikut :

1.    Mengenal, menerima dan mengekspresikan emosi (kefasihan emosional) caranya mampu membedakan emosi orang lain, bentuk dan tulisan baik melalui suara, ekspresi wajah dan tingkah laku.

2.    Menyertakan emosi dalam kerja-kerja intelektual. Caranya perubahan emosi bisa mengubah sikap optimis menjadi pesimis. Terkadang emosi mendorong manusia untuk menerima pandangan dan pendapat yang beragam.

3.    Memahami dan menganalisa emosi. Mampu mengetahui perubahan dari satu emosi ke emosi lain seperti berubahnya dari emosi marah menjadi rela atau lega.

4.    Mengelola emosi

Mampu mengelola emosi sendiri atau orang lain dengan cara meringankan emosi negatif dan memperkuat emosi positif. Hal ini dilakukan denga tapa menyembuhkan informasi yang disampaikan oleh emosi-emosi ini dan tidak berlebihan.

2.2.2 Karakteristik Kecerdasan Emosional (EQ)

Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul Emotional Intelligence menuliskan bahwa berbeda dengan tes-tes untuk IQ yang sudah dikenal, sampai sekarang belum ada tes tertulis tunggal yang menghasilkan nilai kecerdasan emosional. Meskipun ada banyak penelitian mengenai masing-masing komponennya, beberapa komponen seperti empah, paling banter diuji dengan mengambil contoh kemampuan aktual seseorang sewaktu mengerjakan tugas tersebut. Namun, dengan patokan bagi apa yang disebut resikonya ego yang agak mirip dengan kecerdasan emosional.

Menurut Goleman, EQ yang baik bisa dan dapat dipelajari serta diraih seiring dengan pertumbuhan seorang anak. Oleh karena itu, untuk mengetahui tinggi atau rendahnya tingkat EQ pada anak dapat dilakukan sebanyak dua kali yaitu ketika anak berusia sebelum 12 tahun dan ketika si anak pada usia 12 tahun.

2.2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosional (EQ)

Kecerdasan emosional bawaan bisa berkembag atau rusak, hal ini tergantung pada pengaruh yang diperoleh anak dimana kecil atau remaja. Pengaruh ini bisa datang dari orang tua, keluarga atau sekolah. Anak melalui hidupnya dengan potensi yang baik untuk perkembangan emosinya, hanya saja pengalaman emosi yang dialaminya di lingkungan anarkis atau tidak bersahabat menyebabkan grafik perkembangan EQnya menurun. Sebaliknya, bisa saja seorang anak mempunyai EQ bawaan yang rendah, namun Eqnya ini bisa berkembang dengan baik, jika ia dididik dengan baik melalui pengalaman-pengalaman emosional yang ramah dan bersahabat. Perilaku emosi cerdas yang diperlihatkan lingkungannya menyebabkan grafik Eqya menjadi tinggi.

Para orang tua yang gagal mengajuka kecerdasan emosional kepada anak-anak sebagai berikut :

1.    Orang tua yang mengabaikan, yang tidak menghiraukan mengganggap sepi ataupun meremehkan emosi-emosi negatif anak.

2.    Orang tua yang tidak menyetujui, yang bersifat kritis terhadap ungkapan perasaan-perasaan negatif anak dan barangkali memarahi atau menghukum mereka karena mengungkapkan emosinya.

3.    Orang tua Laisez – Faire, yang menerima emosi anak dan berempati dengan mereka tetapi tidak memberikan bimbingan atau menentukan batas-batas pada tingkah laku anak tersebut.

2.2.4 Peran Kecerdasan Emosional (EQ) bagi Kehidupan

Emosi adalah kepalsuan, kemampuan dan keterampilan untuk menangkap kecerdasan dan menilai serta megendalikan emosi diri sendiri, orang lain dan kelompok. Aka tetapi  definisi kecerdasan emosi masih merupakan rahasia yang belum terungkap dan masih berubah-ubah. Kecerdasan emosi merupakan suatu bangunan yang tersusun atas lima dimensi. Kelima dimensi adalah pengetahuan, pengelolaan hubungan, motivasi  diri, empati dan pengendalian perasaan  atau emosi. Kecerdasan  emosi sendiri masih merupakan subjek penelitian yang mengungkapkan kenyataan bahwa ia berbeda dari kemampuan kognitif  atau teknis serta menggunakan bagian otak yag berbeda pula. Kecerdasan emosi penting untuk menanganni situasi yang bermuatan emosi, suatu kondisi yang sering terjadi. Ini barangkali adalah bagia yang paling sulit dalam mengembangkan kecerdasan seseorang. Muatan dari emosi negatif serta dampak dari kepercayaan diri, keberanian dan kejujuran dapat diperoleh dengan baik melalui kecerdasan emosi. Keterampilan mengembangkan dan memanfaatkan kecerdasan emosi akan membetuk seperangkat kemampuan pokok yang mempengaruhi banyak isu bisnis yang vital bagi sensasi individu serta keberhasilan organisasi. Kecerdasan emosi merupakan faktor yang paling jelas mengatur pola  kehidupan. Kecerdasan ini penting dalam pengelolaan emosi yang diperlukan untuk  dapat membangun pola yang berhasil. Pengembangan kecerdasan emosi sangat penting bagi keberhasilan tingkah laku dan organisasi. Kecerdasan emosi merupakan penentu  dalam pembentukan serta keberhasilan hubungan dimasyarakat. Kecerdasan ini juga dapat menghilangkan perasaan takut, cemas, dan marah yang menghambat dalam pengendalian emosi.

Kompotensi utama kecerdasan emosi yang membuat seseorang memiliki kepribadian  yang utuh adalah sebagai berikut (1) Kesadaran-diri emosional. Seberapa jauh Anda mampu mengenai perasaan sendiri (2) Ekpresi  emosional : Kemampuan mengekspresikan perasan dan naluri (3) Kesadaran akan emosi orang lain : kemampuan mendengarkan, merasakan atau mengintusikan perasaan orang lain dari kata, bahasa tubuh, maupun petunjuk lain (4) Kreativitas : berhubungan dnegan berbagai sumberdaya non kognitif yang gagal membantu menentuka ide baru, menemukan solusi alternatif dan cara efektif melakukan sesuatu (5) Kegigihan / fleksibilitas : ulet dan tetap berhasrat serta berharap  walaupun ada halangan (6) Hubungan antarpribadi : menciptakan dan mempertahankan jejaring dengan orang-orang yang bersamanya. Anda menjadi realitas yang utuh (7) Ketidakpuasaan konstruktif kemampuan tetap tenang dan fokus dengan emosi yang tidak meningkat sekalipun dalam perselisihan (8) Wawasan/Optimisme : positif dan optimistik (9) Belas kasihan/empat kemampuan.Berempat dan menghargai perasaan orang lain (10) Intuisi : kemampuan mengenali, mempercayai, dan menggunakan perasaan kuat yang muncul dari dalam, serta respons kognitif  lain yang dihasilkan oleh indera, emosi, pikiran dan tubuh (11) Kesengajaan : mengatakan apa maksud Anda dan tekad untuk melaksanakan apa yang Anda katakan : bersedia tahan terhadap gangguan dan godaan agar dapat bertanggung jawab atas tindakan dan sikap. (12) Radius kepercayaan : mempercayai bahwa seseorang itu “baik” sampai terbukti sebaliknya : namun, tidak juga berlaku mempercayai seseorang (13) Kekuatan Pribadi yakin yang dapat menghadapi segala tantangan dan hidup sesuai dengan pilihan.

2.3    Kecerdasan Spiriitual (SQ)

2.3.1 Pengertian Kecerdasan Spiritual

Berangkat dari pandangan bahwa sehebat apapun manusia dengan kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosionalnyan, pada saat-saat tertentu, melalui pertimbangan fungsi afektif, kognitif, dan konatifnya manusia akan menyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa diluar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apapun, termasuk dirinya penghayatan seperti itu menurut Zakiah Darajat (1970) disebut sebagai pengalaman keagamaan (Religious Experience) Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas keberadaan-Nya, namun juga mengaku-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Oleh karena itu, manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu, baik secara individual maupun kolektif, secara simbodik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. Temua ilmiah yang digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, dan riset yang dilakukan oleh Mishael Persinger pada tahun 1990-an, serta riset yang dikembangkan oleh V.S Ramachandran pada tahun 1997 menemukan adanya God Spot dalam otak manusia, yang sudah secara built-in merupakan pusat spiritual yang terletak diantara jaringan syaraf dan otak. Pada God Spot inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam. Kajian tentang God Spot inilah pada gilirannya melahirkan konsep kecerdasan spiritual, yakni suatu kemampuan manusia yang berkenaan dengan usaha memberikan penghayatan bagaimana agar hidup ini lebih bermakna. Dengan istilah yang disebut Spiritual Quotient (SQ).

Kecerdasan Spiritual (SQ) adalah kecerdasan untuk mengdahapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup  seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.

2.3.2 Karakteristik Kecerdasan Spiritual (SQ)

Jika anak balita memiliki SQ paling tinggi, dia jujur mengungkapkan sesuatu berdasarkan apa yang ada di tolak hatinya. Bila tak suka, anak balita akan bilang tak suka, tak memanipulasi jawabannya. Sejalan bertambahya usia, SQ akan menurun, karenanya orang tua harus terus mengajarkan anak untuk mengembangkan SQ-nya, misal mengajarjan anak bahwa kakak menolong adik bukan karena kewajibannya sebagai kakak semata, namun dilandasi kasih sayang pada adik.

2.3.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Spiritual (SQ)

Kecerdasan spiritual (SQ) secara umum dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu keyakinan dalam diri, potensi diri, dan  kemauan dari diri tersebut. Selain faktor-faktor tersebut peran keluarga dalam membentuk dan meningkatkan serta membina kecerdasan spiritual ini sangat dibutuhkan. Apa yang keluarga tunjukan setiap harinya akan membentuk pribadi anak tersebut. Kondisi yang mendukung seorang anak dalam keluarga akan membuat kecerdasan spiritualnya terbentuk dan terbina dengan baik.

2.3.4 Peranan Kecerdasan Spiritual (SQ) dalam Kehidupan

Menurut Zohar dan Marshal, Kecerdasan Spiritual (SQ) penting dalam kehidupan. Ia menjelaskan bahwa seseorang yang SQ nya tinggi cenderung menjadi pemimpin yang penuh pengabdian, yaitu seorang yang bertanggung jawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih tinggi terhadap orang lain. Ia dapat memberikan inspirasi terhadap orang lain.penjelasan ini juga berlaku terhadap keluarga dimana kecerdasan ini sangat penting dalam membangun karakter manusia yaitu anggota keluarga yang mengilhami orang disekitarnya, dan meciptakan pribadi utuh yang mampu bertindak bijaksana sehingga dalam keluarga tadi tercipta suatu kesinambungan. Mengenai karakter manusia yang mengilhami dan memberikan pengaruh positif berdasarkan visi dan prinsip yang lebih tinggi ini covey menerangkan bahwa kemenangan publik di mulai dengan kemenangan pribadi. Tempat untuk membangun hubungan apapun adalah di dalam diri sendiri, dalam lingkungan pengaruh dan karakter. Setiap pribadi yang menjadi mandiri, proaktif, berpusat pada prinsip yang benar, digerakkan oleh nilai dan mampu mengaplikasikan integritas, maka ia pun dapat membangun hubungan saling tergantung, kaya, langgeng dan sangat produktif dengan orang lain.

Kecerdasan spiritual mampu mengungkapkan yang abadi, yang asasi, yang spiritual, yang fitrah dalam struktur kecerdasan manusia. Kecerdasan spiritual juga mampu membimbing kecerdasan lain berdasarkan prinsip yang hakiki untuk membuat kita lebih arif, lebih bijaksana dari dalam keluar sehingga membuat manusia dapat lebih benar, lebih sempurna, lebih efektif. Lebih bahagia dan menyikapi sesuatu dengan lebih jerih sesuai dengan bimbingan nurani yang luhur dalam keseluruhan hidupnya.

Dengan kecerdasan spiritual pribadi akan memiliki pribadi utuh dan berpusat pada prinsip yang benar. Apabila tindakan didasari dibimbing oleh yang benar maka tindakan ucapan, dan sikapnya menjadi bijaksana dan penuh kebaikan.

Individu yang mampu mengembangkan kecerdasan spiritual  akan memiliki prinsip dan cara pandang yang realistis, mampu menyatukan keragaman, mampu memaknai, dan menstranformasikan kesulitan menjadi medan penyempurnaan dan pendidikan spiritual yang lebih tajam dan matang.

2.4    Hubungan Antara IQ, EQ dan SQ

Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul Emotional Intellience menjelaskan bahwa kunci sukses seseorag ternyata tidak hanya disebabkan tingginya IQ (Inteligence Quotion) saja, ada faktor lain yang dapat membawa seseorang menuju kesuksesan, yaitu EQ ( Emotional Quotionale) atau kecerdasan emosional. Di dalam buku itu diceritakan yang pada intinya bahwa ada percobaan yang dilakukan terhadap anak kecil, dimana untuk mendapatkan sebuah kue yang enak, seorang anak harus berusaha dan menunggu terlebih dahulu. Dari sekitar banyak anak, terdapat sedikit sekali yang akhirnya yang mendapat kue itu setelah berusaha dan menunggu. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata anak-anak yang sabar ini meraih kesuksesan lebih dibanding teman-temannya yang lain, setelah beberapa pengkajian dan  penelitian lebih dalam, para penelitipun berkesimpulan bahwa kecerdasan emosionalnya yang dimiliki oleh seseorang menjadi kunci dalam keberhasilan seseorang.

Dewasa ini, ada perkembangan terbaru dalam menentukan faktor kunci keberhasilan seseorang, yaitu Spiritual Quation (SQ). Teori ini berkembang setelah didapat banyak orang-orang yang sukses ternyata mempunyai rohani yang kering. Mereka kehausan spiritual, setelah mendapatkan apa yang mereka impikan bahkan apa yang semua di dunia ini impikan, yaitu kekayaan berlimpah, ketenaran, kekuasaan, kedudukan yang tinggi. Mobil-mobil lux mereka berjejer rapi di dalam rumah bak istana yang megah dan luas. Tetapi justru disitulah mereka menemuka neraka di dalamnya, suami dan istri yang bertikasi sepanjang hari, anak-anak yang berbius oleh dunia kelamnya. Tidak ada kedamaian di saat yang ada hayalah detik-detik penantian menuju kehancuran penghuninya. Oleh karena itu selai IQ dan EQ yang tinggi, dibutuhkan lain apa yang dinamakan kecerdasan spiritual (QS).

Selain itu, Ary Ginanjar Agustian seorang dosen, pengusaha, dan penulis buku Emotional dan Spiritual Quotient (ESQ) dan ESQ power yang terkenal dengan pemikirannya yang diberi nama ESQ, sebuah pemikiran yang menguak adanya kolerasi yang sangat kuat antara dunia usaha, profesionalisme dan manajemen modern, dalam hubungannya dengan intisari al-Islam : rukun Islam dan rukun Iman.

Menurut, IQ terletak pada fungsi otak neocortex , EQ terletak pada fungsi otak lymbic system, sedangkan SQ pada fungsi  otak godsport atau terletak pada temporallobe.

Penemuan IQ, EQ dan SQ menjadi syarat ilmiah bahwa kecerdasan spiritual sudah ada dalam fungsi neroscience otak manusia. Namun kecerdasan intelektual saja tak cukup, masih dibutuhkan apa yang disebut EQ, EQ menunjukkan bukti bahwa sangat berperan penting didalam keberhasilan kita.

Sebuah lembaga pernah membuat penelihan. Mereka melihat data bank raksasa bernama EQ inventory. Di sini dikumpulkan data-data seluruh orang sukses di mula bumi. Hasilnya, ditemukan bukti bahwa kecerdasan intelektual hanya 6% membawa keberhasilan, bahkan maksimum hanya 20 %.

2.5    Penerapan IQ, EQ da SQ Dalam Kehidupan

IQ, EQ dan SQ bisa digunakan dalam mengambil keputusan  tentang hidup kita. Seperti yang kita alami setiap hari, keputusan yang kita buat, berasal dari   proses :

1.    Merumuskan keputusan atau eksekusi

2.    Menjalankan keputusan atau eksekusi

3.    Menyikapi keputusan atau eksekusi

Rumusan keputusan itu seharusnya didasarkan pada fakta yang kita termuka di lapangan realita (apa yang terjadi) bukan berdasarkan pada kebiasaan atau preferensi pribadi suka atau tidak suka. Kita bisa menggunakan IQ yang menonjolkan kemampuan logika berpikir untuk menemukan fakta obyektif, akurat, dan untuk memprediksi resiko, melihat konsekuensi dari setiap pilihan keputusan yang ada. Rencana keputusan yang hendak diambil merupakan hasil dari penyaringan logika, juga tidak bisa begitu saja diterapkan, semata-mata demi kepentingan dan keuntungan diri kita sendiri. Bagaimanapun, kita hidup bersama dan dalam proses interaksi yang konstan dengan oran lain. Oleh sebab itu, salah satu kemampuan EQ yaitu kemampuan memahami (empati) kebutuhan dan perasaan orang lain menjadi faktor penting dalam membimbing dan memutuskan. Banyak fakta dan dinamika dalam hidup ini, yang harus dipertimbangkan, sehingga kita tidak bisa menggunakan rumus logika matematis untung rugi. Kita pun sering menjumpai kenyataan bahwa faktor human tosch turut mempengaruhi penerimaan atau pendakan seseorang terhadap kita-salah satu contoh kongkrit di Indonesia budaya “kekurangan” sangat ketal mendominasi dan mempengaruhi perjanjian bisnis atau bahkan penyelesaian konflik.

BAB  III

PENUTUP

3.1    Kesimpulan

IQ merupakan kecerdasan untuk melakukan kemampuan menalar, merencanakan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. EQ merupakan kemampuan untuk menyikapi pengetahuan emosional dalam bentuk menerima, memahami dan mengelolanya. Sedangkan SQ merupakan kemampuan manusia yang berkenaan dengan usaha memberikan penghayatan bagaimana agar hidup lebih bermakna.

IQ, EQ dan SQ adalah perangkat yang bekerja dalam satu kesatuan sistem yang saling terkait didalam diri kita. Ketiganya sangat diperlukan dalam menentukan kesuksesan seseorang. IQ saja tidak akan cukup tanpa dibarengi dengan EQ dan SQ.

3.2    Saran-Saran

–         Hendaknya kita memahami lebih dalam tentang pengertian, karakteristik, faktor dan peran IQ, EQ dan SQ.

–         Hendaknya kita memahami hubungan IQ, EQ dan SQ.

–         Hendaknya kita menerapkan IQ, EQ dan SQ dalam kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Agustian, Ary Ginanjar, 2001, ESQ (Emotional Spiritual Quatient), Jakarta : Arga

Carter, Philip & Ken Russell, 1989. The IQ Test Book. Jakarta : PT. Bhuana Ilmu Populer.

Goleman, Daniel, 2002. Emotional Intelligence. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

http://www. mail-archive/Wanita-Muslimah @yahoogroups.Com

http://www. Adashendra. Com/2009/01/Kecerdasan – Spiritual-Spiritual – Quotient. Html.

http://mitrafm. com/blog/2008/12/15/Kecerdasan-Spiritual-Menentukan-Jati-Diri

http://ujangky.blogspot. com/2008/06/kesetimbangan-iq-eq-eg.html

http://wap. indosiar.com/ragam/69730/mengukur-potensi-dan-kreatifitasi-anak.

Mei 18, 2009

Hello world!

Filed under: Uncategorized — Tisna @ 5:21 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.